Bagaimana Memulai Homeschooling Untuk Anak yang Sebelumnya Bersekolah?

Belakangan ini saya kerap menerima pertanyaan seperti di atas. Beberapa orang tua yang menemui saya mengeluhkan anak-anaknya tidak betahan di sekolah, merasa terbebani dengan pelajaran, sering dipaksa dulu baru mau ke sekolah, itu pun dengan wajah sedikit manyun (pertanda sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan baginya), dan lainnya. Saya tentu menjawabnya sesuai pengalaman saya saja, sebab, Ayesha (10 th), sempat sekolah sebelum belajar mandiri. Ayesha sempat sekolah hingga kelas tiga SD, dan selama sekolah ia pernah libur satu semester, setiap minggu selalu mengambil dua hingga tiga hari libur, dan kerap dibujuk-bujuk dulu baru mau sekolah (hingga kami semua capek dengan kondisi itu dan akhirnya memutuskan homeschooling)


Berdasarkan pengalaman saya, setidaknya ada beberapa cara memulai homeschooling untuk anak yang sebelumnya pernah bersekolah.
  1. Netralkan dulu pikirannya dari beban pelajaran (istilahnya deschooling). Lama menetralkan ini antara 4-12 minggu. Selama proses ini, orang tua banyak mengajak anak bermain dan membawanya ke tempat-tempat menyenangkan. Yang saya lakukan bersama Ayesha adalah, membuat craft bersama (kami membuat boneka dari kaus kaki, mendaur ulang barang-barang, meniru cara membuat kerajinan dari youtube, dst), kami juga menonton film (di antaranya film-film yang diangkat dari buku Dr. Seuss seperti Lorax dan Horton Hears a Who), pergi ke perpustakaan dan membaca di sana, jalan pagi, ke pasar bersama, main ke pantai, mengunjungi museum, dan lainnya. Pokoknya kami bergembira tanpa hars terikat jadwal. Deschooling juga menjadi semacam ruang bagi orang tua untuk pertama, mengamati anak, kesukaannya, kecenderungan belajarnya, hal-hal yang menyenangkan dan merisaukan hatinya, dll, yang selama ini mungkin terluput. Kedua, membuat orang tua bisa mengukur dirinya sendiri, sejauh mana peran yang bisa dia ambil nanti dalam proses homeschooling. Biasanya selama deschooling orang tua-anak akan menemukan keseimbangan-keseimbangan tertentu. Orang tua jadi lebih yakin dengan dirinya, anak juga akan merasa lebih terikat dengan orang tuanya
  2.  Setelah masa deschooling selesai, singkirkan ukuran-ukuran penilaian sekolah yang selama ini mungkin bercokol kuat di benak orang tua. Setiap anak memiliki kecenderungan belajar sendiri. Metode belajar itu banyak. Setiap anak unik. Mereka memiliki bakat sendiri yang istimewa.
  3. Fokuslah pada kelebihan anak anda. Rancang pelajaran yang mengeksplorasi kelebihannya. Jika ia suka matematika, misalnya, orang tua bisa mengarahkan dia belajar pemrograman dari kecil, atau yang lainnya, yang sejalan dengan kesukaannya. Jika dia suka menggambar, masukkan dia ke les menggambar. Mungkin anda bisa juga mengarahkan dia nanti untuk mengolah gambarnya di komputer atau mengarahkannya menekuni dunia disain grafis.
  4. Jika anda belum menemukan apa bakatnya atau kesukaannya, berikan dia pengalaman belajar sebanyaknya, mulai dari seni, olahraga, sampai ilmu pasti. Ada beragam seni yang bisa anda kenalkan ke anak, seni menulis kreatif, seni gambar, seni drama, musik, dll. Ada beragam jenis olahraga. Ada beragam cabang ilmu pasti (pemrograman komputer, robotik, pengamatan flora dan fauna, dll). Kenalkan juga dengan dunia komunikasi visual, perdagangan, dll. Banyak metode mengenalkannya. Jika ia kelihatan suka berdagang, arahkan saja dia ke situ. Ajarkan prinsip-prinsip transaksi. Cara menghitung laba rugi, dst. Berikan waktu 6-18 bulan padanya untuk menemukan apa yang disukainya. Banyaklah membantunya. Banyaklah bersabar. Bukan pada masa kecilnya anda memetik hasil usaha, tapi nanti, setelah ia dewasa.
  5. Seiring waktu anda bisa memutuskan akan memakai metode homeschooling yang terstruktur atau unschooling yang tidak terstruktur. Kedua pilihan sama baiknya. Apapun metode yang dipilih, sesuaikan dengan tipe keluarga anda. Khusus saya, lebih memilih homeschooling, karena saya lebih suka sesuatu yang terstruktur dan terencana sejak awal.
Belajar mandiri (homeschooling dan unschoolng) hanyalah satu di antara beberapa model belajar. Apapun pilihan yang kita ambil, pastikan itu untuk kebaikan anak-anak dan keluarga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Free PDF- Rancangan Belajar Homeschooling

Mengapa Anak Jadi Sangat Rewel Saat Bersama Ibunya?