Materi Menulis Kreatif Dasar untuk Anak (Free Pdf)

Mengajarkan seni mengungkapkan pikiran ke anak (atau kita sebut saja menulis kreatif) mesti dimulai dari hal paling dasar dan yang paling kongkret baginya. Itu bisa dimulai dari memintanya menuliskan warna, bentuk, rasa atau pendapatnya mengenai sesuatu. 


Awalnya, anak-anak akan menulis satu atau dua kata, tapi lama kelamaan, bila pelajaran menulis kreatif ini rutin diberikan, dia bisa mengungkapkan apa yang dilihat dan dirasakannya dalam kalimat-kalimat panjang, bahkan dengan diksi yang seringkali mencengangkan.
Pelajaran menulis kreatif tidak bisa berdiri sendiri. Pelajaran ini mesti diawali dan dibarengi kegiatan membaca yang rutin. Tak mungkin orang tua meminta anak bisa menuliskan kisah liburannya, bila anak tidak pernah diajak membaca buku bersama sedari kecil. Otak itu sama seperti teko, hanya mengeluarkan apa yang diisikan padanya. Jika teko itu tak pernah diisi apa-apa, bagaimana mungkin kita berharap ia akan mengeluarkan teh atau susu? Maka, memasukkan jutaan kata ke kepala anak adalah cara pertama mengajarkannya seni menulis kreatif. Setelah bertahun-tahun anak disiram oleh bahasa, ia akan menjadi peka terhadap bahasa, baik bahasa simbol (tulisan), maupun suara. Inilah saat yang tepat memulai pengajaran menulis kreatif.
Saran saya, mulailah mengajarkan seni menulis kreatif setelah orang tua menyiram kepala anak dengan kata-kata selama (lebih kurang) tiga tahun. Ini paling minimal ya. Jika anak sekarang berusia 7 tahun dan sebelumnya orang tua tidak pernah mengajaknya membaca bersama, membacakan buku cerita untuk dia, dst, yang membuat dia tidak berminat pada bacaan, orang tua sebaiknya menunda mengajarka seni menulis kreatif. Isilah dulu kepala anak selama tiga tahun, baru mengajarkan dia pelajaran ini. Seni mengungkapkan pikiran itu adalah seni yang rumit. Ini adalah pondasi kedua ilmu pengetahuan (setelah membaca). Jadi, orang tua jangan tergesa-gesa. Bersabarlah. Bukan pada usia anak 12 atau 13 orang tua 'memanen' hasil pendidikannya, tapi nanti, setelah ia dewasa. Jadi, selama ia masih kecil, pupuklah, siramilah ia dengan telaten dan sungguh-sungguh. Pohon tumbuh tidak tergesa-gesa (demikian kata penulis Yus R. Ismail). Jika ia terus berinteraksi dengan bacaan, meski tidak sering, tampak berminat pada bacaan meski tidak terlalu tinggi, maka, menurut pengalaman saya di Kelas Menulis Kreatif Anak Pusda Sumbar, seni menulis kreatif sudah bisa diberikan dengan catatan, orang tua mesti membacakan dulu sebuah buku untuk dia sebelum memulai pelajaran ini. Tujuannya untuk membuka ruang kepekaan bahasa di otaknya agar lebih lebar dan lapang.
Nah, ini adalah salah satu materi homeschooling menulis kreatif untuk putri kedua saya, Alifa. Saya bagi di sini secara gratis. Anda bisa membuat materi yang sama berdasarkan materi ini, atau mengembangkannya sesuai kebutuhan anak anda.
Silakan unduh di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Free PDF- Rancangan Belajar Homeschooling

Mengapa Anak Jadi Sangat Rewel Saat Bersama Ibunya?